[Resensi] The Soloist

Buku : The Soloist
Oleh : Steve Lopez
ISBN : 9789792772876
Rilis : 2010
Halaman : 384
Penerbit : Elex Media Komputindo
Bahasa : Indonesia

 

4/5 stars

 

Kisah (Nyata) yang Memilukan, Kasih yang Membangkitkan, dan Musik yang Membebaskan

 

ADALAH Steve Lopez, seorang kolumnis yang bekerja pada Los Angeles Times, suatu ketika bertemu dengan Nathaniel Anthony Ayers—yang dalam keanggunannya yang dekil tengah memainkan musik Beethoven dengan biola usangnya—di pusat keramaian Kota Skid Row, Los Angeles suatu pagi.

Nathaniel, bagi Steve Lopez awalnya hanyalah sebuah artikel yang memenuhi syarat untuk sebuah kolom di surat kabar L.A Times, tentang kisah luar biasa seorang musisi jalanan misterius yang memainkan musiknya dengan sebuah biola usang yang telah kehilangan dua buah dawainya. Namun, Steve Lopez kemudian tak pernah menyangka bahwa Nathaniel Anthony Ayers, seorang penderita skizofrenia paranoid yang ditemuinya di jalanan itu sesungguhnya pada lebih dari tiga puluh tahun yang lalu adalah murid bass klasik di Juilliard, sebuah sekolah musik paling bergengsi di dunia yang mana telah melahirkan banyak musisi terkenal dunia sekaliber Yo Yo Ma, Ben Hong, Emanuel Ax, dan yang lainnya.

Ketika artikel yang berjudul ‘Dia Menggenggam Dunia dengan Dua Dawai’ berhasil menghiasi halaman L.ATimes di suatu harisisi kepedihan, perjuangan hidup, dan keseharian Nathaniel yang bermain musik di terowongan Second Street maupun tempatnya menghabiskan malam-malam di Skid Row—yang penuh dengan orang-orang tanpa harapan dan tujuan hidup, tempat para veteran yang cacat terbuang dan segelintir manusia pecandu narkotika dan sakit jiwa berbagi ruang, pun berhasil menggugah sisi kemanusiaan pembaca dari berbagai kalangan.

Steve Lopez, karena sebuah kolomnya yang menggugah tersebut kemudian mendapati dirinya telah memilikitanggung jawab terhadap segala sesuatu yang terjadi pada diri Nathaniel segera setelah para pembaca mulai mengirimkannya sumbangan berupa alat-alat musik untuk Nathaniel dan juga pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan dan perkembangan kejiwaan Nathaniel kepadanya. Di atas segalanya, Steve telah menganggap Nathaniel sebagai sahabat dan bagian dari hidupnya selain istri dan anak-anaknya.

Bagaimana sesungguhnya kehidupan Nathaniel di masa lalunya, menjadi hal yang perlu ditelusuri tatkala Steve mencoba untuk menolong sang musisi skizofrenik tersebut untuk meraih kembali mimpinya yang hilang atau setidaknya membuatnya meninggalkan kehidupan jalanan yang kelam. Namun, hal tersebut tidaklah mudah. Nathaniel adalah sebuah fenomena lama berusia lima puluh empat tahun yang perkembangan ingatannya dipaksa berhenti lebih dari tiga puluh tahun yang lalu dan seorang lelaki yang lebih menyukai sepetak trotoar daripada sebuah apartemen, serta curiga terhadap setiap orang dan menolak berhubungan dengan siapa pun yang memiliki sebutan ‘dokter’ di awal namanya. Akan tetapi, meski memiliki label ‘sakit jiwa’, Nathaniel adalah seorang warga idealis yang menentang obat-obatan terlarang, alkohol, rokok dan penyuka kebersihan, serta seorang yang bertata-krama dalam sebagian besar sikapnya terhadap orang lain.

Di sisi lain, musik adalah jiwa bagi Nathaniel. Beethoven adalah inspirasi hidupnya. Nada-nada yang mengalun melalui biola, cello, dan bass adalah khayalan yang membebaskan bagi jiwanya yang sakit, namun samar untuk arti sebuah mimpi yang nyata.

Dalam penelusurannya terhadap jejak kehidupan Nathaniel di masa lalu, Steve mendapatkan kenyataan Nathaniel kecil mengalami problema dalam kehidupan keluarganya yang tercerai-berai. Ayahnya yang menikah lagi pasca perceraian dengan ibunya tak pernah menaruh minat terhadap pertumbuhan Nathaniel kecil maupun saudari-saudarinya. Sementara Nathaniel kecil pada saat itu mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan saudara-saudara tirinya yang merupakan anak-anak dari suami baru ibunya. Meski demikian, kejeniusan dan kecemerlangan bakat Nathaniel dalam bermain musik kemudian berhasil membuatnya mendapatkan beasiswa pada sekolah musik Juilliard di era tahun 70-an.

Pecahnya perang Vietnam dan adanya perpecahan rasial antara golongan kulit putih dan hitam di tahun 1972 kemudian menjadi tekanan yang tak dapat dikatakan kecil oleh seorang Nathaniel yang kala itu berusia dua puluh tahun. Tak terbantahkan, Nathaniel yang merupakan keturunan kulit hitam adalah minoritas yang berjuang dan berlatih untuk menunjukkan bakat dan kesetaraannya di antara teman-temannya yang mayoritas berkulit putih di sekolah musiknya saat itu.

Selain tekanan intern yang berasal dari kalangan keluarganya dan tekanan rasial yang melanda warga Afrika-Amerika saat itu, sekolah musik Juilliard di era 70-an juga merupakan sebuah sekolah musik yang amat berkompetisi dan sama sekali bukanlah sebuah sekolah yang berbelas kasih terhadap murid-murid yang memiliki masalah pribadi. Prinsip yang berlaku di Juilliard saat itu adalah siapa yang kuat dialah yang menang, maka tak heran jika tak sedikit murid Juilliard yang mengalami gangguan kejiwaan maupun bunuh diri ketika tak sanggup menghadapi ketatnya kompetisi dan kurangnya kemajuan diri dibandingkan dengan murid lainnya. Adakah fenomena ini juga merupakan pemicu terjadinya gangguan kejiwaan bagi Nathaniel, mengingat sesungguhnya dia adalah salah satu murid dengan bakat dan prestasi yang selalu mendapat pengakuan dari guru-guru musiknya sebagai ‘luar biasa dalam segala aspek’?

Sementara bagi Steve Lopez yang telah mengorbankan sekian banyak waktunya, Nathaniel, adalah seorang musisi berbakat—yang telah mengalami kehancuran mental—yang harus diupayakan kesembuhannya dengan berbagai cara, baik melalui musik, pendekatan dan kepedulian yang menghangatkan jiwanya, maupun penyembuhan secara medis, meski Nathaniel dengan skizofrenia paranoid-nya berulang kali membuatnya kecewa dan terpuruk dalam harapannya yang mustahil untuk melihat Nathaniel menggenggam kembali impiannya bersama musik dalam kecemerlangannya yang kian memudar.

The Soloist (New York Times bestseller), merupakan drama kehidupan nyata yang memilukan tentang harapan, kemanusiaan, dan persahabatan yang memberi arti penting bagi jiwa yang sakit dan terbuang di antara laju kehidupan manusia yang terberkati dengan keindahan, kesehatan, dan kebahagiaan. Nathaniel Anthony Ayers, merupakan sebuah simfoni yang menggetarkan kalbu dan potret kehidupan yang buram tentang pencarian kebahagiaan yang semu, dan tentang mimpi yang menyedihkan. Steve Lopez, dalam tugasnya selama kurun waktu tiga puluh tahun di dunia jurnalis berhasil mengubah pandangan kita tatkala menyusuri jalanan dan melewati mereka yang menghabiskan malam di jalanan; bahwa persahabatan dapat mengubah kehidupan, dan tiada manusia yang tak berarti.

 

*Peresensi: Liven R

http://www.bookoopedia.com/id/resensi/rid-2108/kisah-nyata-yang-memilukan-kasih-yang-membangkitkan-dan-musik-yang-membebaskan.html

About bookoopedia

Toko Buku Online Lokal dan Impor Amazon www.bookoopedia.com

Posted on March 14, 2013, in Buku Non Fiksi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44,813 other followers

%d bloggers like this: