Kumpulan Puisi Bersama Tujuh Penyair; Pesanggrahan Aksara

Kumpulan Puisi Bersama Tujuh Penyair

Pesanggrahan Aksara*

Saya menyambut gembira penerbitan Pesanggrahan Aksara dan Sketsa Putih Abu-Abu ini. Tahun-tahun belakangan atau satu dekade terakhir sastra Indonesia semarak dengan  terbitnya banyak kumpulan puisi, kumpulan cerpen, novel; dan dua buku ini bagian dari yang menggembirakan kita.

Peristiwa itu bagi saya juga pertanda bertambahnya peminat / pembaca sastra, sekaligus meningkatnya jumlah pengarang dan penyair. Maka bila sobat saya Pamusuk Eneste dan Korrie Layun Rampan menerbitkan – ulang Buku Pintar Sastra Indonesia serta Leksikon Susastra Indonesia mereka, buku-buku itu niscaya jauh lebih tebal dari sebelumnya.

Menggembirakan pula, pertambahan jumlah pengarang/penyair itu juga ditandai dengan peningkatan jumlah perempuan pengarang dan penyair yang amat banyak, seperti terlihat dari kumpulan cerpen, puisi, novel yang terbit. Pun di Facebook dan rubrik-rubrik sastra surat kabar. Hal ini sangat berbeda dengan periode sebelumnya apalagi dibanding dekade 1970/1980 di masa awal-awal kepengarangan saya.

Pesanggrahan Aksara dan Sketsa Putih Abu-abu ini karya dari sebagian perempuan yang meramaikan dunia sastra kita itu.

***

Pesanggrahan Aksara merupakan sebuah antologi, sebuah bunga rampai; memuat sajak 7 penyair: Elly Marliah, Euis Meilani Sabda, Epiest Gee, Nancy Meinintha Brahmana, Niyan Prihastoety, Nunung Susanti, dan Shaka Arundaya.

Sebagaimana bunga rampai (campuran aneka bunga dalam satu wadah), dari kumpulan puisi ini menguar aneka aroma. Pada bentuk sajak, umpamanya, tampak keragaman. Ada yang tertib dengan jumlah larik yang sama  di tiap bait, ada yang tidak. Juga ada yang satu bait saja. Ada yang hemat kata, ada yang terkesan naratif. Dan ada pula yang cenderung liris.

Tema pun demikian, beragam.  Ada tema sosial / keberpihakan kepada orang kecil/melarat. Ada tema renungan perkawinan, kekuatan senyuman, gairah, kerinduan, penantian, cinta, pencarian, dan lainnya.

Jadi jika menulis sajak upaya penyair mengenal diri, mengenal alam, manusia lain, hidup, kehidupan, Sang Pencipta; maka penyair ini dengan tema-tema yang sudah bergulat ke tujuan. Objek mereka gumuli dengan intens, lalu mereka  ekspresikan  ide, tanggapan, dan pengalaman batin atas semua itu-lewat berbagai bentuk sajak tadi.

Tapi kita tahu alat ekspresi penyair ialah kata, bahasa. Maka pergulatan tak henti penyair juga berlangsung (bahkan terlebih-lebih) di sini; menemukan  kata bahasa. Itu yang akan membawanya memiliki bahasa yang khas/personal, bertenaga, lain dari penyair lain, bak Chairil Anwar kita kenal dengan hidup hanya menunda kekalahan/ tambah terasing cari cinta sekolah rendah, misalnya.

Dan karena puisi sangat peduli rima, irama, metaphor, penggalan larik, diksi, dan sebagainya (sehingga dia beda dengan prosa), maka pergulatan menemukan kata /bahasa tadi pun mengindahkan hal-hal itu.

Dari sajak “Z” Goenawan Mohammad mungkin bisa  terlihat upaya menemukan kata/bahasa dengan mengindahkan  berbagai perangkat puisi  itu. Puisi ini berkisah tentang perpisahan, namun penuh renungan. Penyair memasukkan untuk tempat (Marly) dan alam sekitarnya (pohon murbei, musim panas) dalam puisi ini. Juga rima, dan diksi “seribu kereta -api” terasa pas sebagai metafor waktu yang dirasakan tiba begitu cepat hingga perpisahan itu terjadi, juga menyentuh. Begini lengkapnya:

Di bawah bulan Marly

Dan pohon musim panas

Ada seribu kereta-api

Menjemputmu pada batas

Mengapa mustahil mimpi

Mengapa waktu memintas

Seketika berakhir berahi

Begitu bergegas

Lalu jatuh daun murbei

Dan air mata panas

Lalu jatuh daun murbei

Dan engkau terlepas

Saya percaya Elly, Euis, Epiest, Nancy, Niyan, Nunung, juga memahami hal itu; bahwa penyair tak henti bergulat untuk menemukan kata/bahasa yang pas, khas, personal. Buktinya, Pesanggrahan Akasara ini bukan satu-satunya buku puisi mereka. Sebelumnya pun telah ada bersama atau sendiri. Dan Euis Meilani Sabda pada kesempatan ini bahkan menerbitkan pula Sketsa Putih Abu-abu, yang juga memuat puisi serta cerpen. Semua itu tanda bahwa mereka taka sing dengan puisi, memberi banyak waktu untuk menulis puisi.

Dan pergulatan menemukan kata/bahasa terjadi di setiap proses kreatif menulis puisi.

Adek Alwi

*Disampaikan pada peluncuran buku Pesanggrahan Aksara dan Sketsa putih Abu-abu di toko buku Leksika – Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Sabtu 16  April 2011.

Dengan Nara sumber Bapak Adek Alwi dan moderator Epri Tsaqib.

—————————————————

Pemesanan buku Pesanggrahan Aksara, dan Sketsa Putih Abu-abu klik pada cover berikut:

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s